Powered By Blogger

Thursday, February 11, 2010

HIPERTENSI

PENGERTIAN
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah yang sama atau melebihi 140mmHg sistolik dan / atau sama atau melebihi 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang makan obat anti hipertensi.


Klasifikasi Tekanan Darah Berdasarkan Joint National Commnitee VII:

Klasifikasi TD Sistolik TD Diastolik
(mmHg) (mmHg)

Normal <120 dan < 80
Pre-hipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi stage 1 140-159 atau 90-99
Hipertensi stage 2 ≥ 160 atau ≥ 100


Diagnosis
Kasifikasi berdasarkan hasil rata-rata pengukuran tekanan darah yang dilakukan minimal 2 kali tiap kunjunagan atau lebih dengan menggunakan cuff yang meliputi minimal 80% lengan atas pada pasien dengan posisi duduk dan telah beristirahat 5 menit.
Tekanan sistolik = suara fase 1 dan tekanan diastolik = suara fase 5
Pengukuran pertama harus pada kedua sisi lengan untuk menghindarkan kelainan pembuluh darah perifer

DIAGNOSIS BANDING
Peningkatan tekanan darah akibat white coat hypertension, rasa nyeri, peningkatan tekanan intraserebral, ensefalitis, akibat obat,dll

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Urinalisis, tes fungsi ginjal, gula darah, elektrolit, profil lipid, foto toraks, EKG; sesuai penyakit penyerta: asam urat, aktivitas renin plasma, aldosteron, katekolamin urin, USG pembuluh darah besar, USG ginjal, ekokardiograf


TERAPI
Modifikasi gaya hidup dengan target tekanan darah <140/90 mmhg atau <130/80 pada pasien DM atau penyakit ginjal kronis. Bil;a target tidak tercapai maka diberikan obat inisial.
Obat inisisal dipilih bedasarkan:
Hipertensi tanpa compelling indication
Pada hipertensi stage I dapat diberikan diuretik. Pertimbangkan pemberian penghambat ACE, penyekat reseptor beta, penghambat kalsium, atau kombinasi.
Pada hipertensi stage II dapat diberikan kombinsi 2 obat, biasanya golongan diuretik, tiazid dan penghambat ACE atau antagonis reseptor AII atau penyekat reseptor beta, atau penghambat kalsium.
Hipertensi dengan compelling indication. Latihan tabel petunjuk pemilihan obat pada compelling indication. Obat antihipertensi lain dapat diberikan bila dibutuhkan misalnya diuretik, antagonis reseptor beta, atau penghambatkalsium.
Bila target tidak tercapat makadilakukan optimalisasi dosis atau ditambahkan obat lain sampai target tekanan darah tercapai. Pertimbangkan untuk b erkonsultasi pada spesialis hipertensi.
Pada penggunaan penghambatan ACE atau antagonis reseptor AII: evaluasi kretinin dan kalium serum, bila terdapat peningkatan kreatinin>35% atau timbul hiperkalemi harus dihentikan
Kondisi khusus lain:
Obesitas dan sindrom metabolik (terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki – laki >102 cm atau perempuan >89 cm, toleransi gluikosa tergantung dengan gula darah puasa ≥110 mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmhg, trigliserida tinggi ≥150 mg/dl, kolesterol HDL rendah <40 mg/dl pada leki – laki atau <50 mg/dl pada perempuan)-> modifikasi gaya hidup yang intensif dengan pilihan terapi utama golongan penghambat ACE. Pilihan lain adalah antagonis reseptor AII, penghambata kalsium, dan penghambat 
Hipertrofi ventrikel kiri - > tatalaksana tekanan darah yang agresif termasuk penurunan berat badan , restriksi asupan natrium, dan terapi dengan semua kelas antihipertensi kecuali vasodilator langsung, hidralazin dan minoksidil
Penyakit arteri perifer  semua kelas anti hipertensi, tatalaksana faktor risiko lain, dan pemberian aspirin
Lanjut usia, termasuk penderita hipertensi sistolik terisolasi -> diuretika ( tiazid ) sebagai lini pertama, dimulai dengan dosis rendah 12,5 mg/hari. Penggunaan obat antihipertensi lain dengan mempertimbangkan penyakit penyerta.
Kehamilan -> pilihan terapi adalah golongan metildopa, penyekat reseptor , antagonis kalsium, dan vasodilator. Penghambat ACE dan antagonis reseptor AII tidak boleh digunakan selama kehamilan


Terapi Farmakologis
3 pendekatan utama dalam terapi hipertensi :
1. Menurunkan curah jantung
2. Menurunkan volume darah
3. Menurunkan resistensi perifer


Kllasiifiikasii berdasarkan efek terapeutiik
Obat yang menurunkan curah jantung:
– beta blocker
– penghambat saraf adrenergik
Obat yang menurunkan tahanan perifer :
– vasodilator
– penghambat reseptor a-adrenergik
– obat yang bekerja sentral
– antagonis kalsium
– ACE inhibitor
– ARB
– Diuretik ( dalam jangka panjang )
Obat yang menurunkan volume darah :
– Diuretik



Antagonis calcium/
calcium channel blocker
Menghambat masuknya ion Ca2+ melewati
slow channel yang terdapat pada membran
sel
– dilatasi arteriol perifer dan koroner -->
tahanan perifer ↓
– menghambat kontraksi otot jantung
– verapamil, diltiazem, nifedipin
– efek samping: konstipasi, mual, pusing,
sakit kepala, hipotensi, edema


Beta blocker
(penghambat adrenergik)
menghambat reseptor beta adrenergiik
pengurangan denyut jjantung dan
kontraktiilliitas miiokard
Propanolloll,, atenolloll,, dllll


Vasodilator
–menurunkan tahanan periiffer dengan
diillatasii pembulluh darah
arteri (hidralazin, minoxidil)
arteri dan vena (nitroprusida)
–effek sampiing: takiikardiia,, sakiit
kepalla,, pusiing



Penghambat enzim konversi
angiotensin/ ACE inhibitor
– menghambat pembentukan angiotensin II
dari angiotensin I
– efek samping: batuk kering, angioedema,
hiperkalemia, rash, leukopeni, gangguan
pengecapan
– Captopril, Enalapril, Lisinopril, Ramipril,
Quinapril


Diiuretiik
Menambah kecepatan pembentukan urin/
meningkatkan eskresi air, natrium, klorida
--> menurunkan volume darah --> tekanan
darah ↓ akibat berkurangnya curah jantung.
– Thiazide (HCT/hidroklorotiazid)
– Loop diuretic (furosemid)
– Diuretika hemat kalium (amilorid

No comments:

Post a Comment