Powered By Blogger

Sunday, February 14, 2010

tugas nutrasetika ku

Diabetes Mellitus

1.1. Pendahuluan

Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik sebagai akibat kurangnya insulin di dalam tubuh sehingga glukosa darah diatas normal hampir sepanjang waktu, dengan tanda – tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai gejala klinis akut 3P (poliuria, plidipsi, polifagia ) atau kadang – kadang tanpa gejala. Hormon insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas (terletak pada lekukan usus dua belas jari ) penting untuk menjaga keseimbanagan kadar gula / glukosa darah normal. Apabila terdapat gangguan kerja insulin baik kualitas maupun kuantitias , maka keseimbangan tersebut menjadi terganggu dan glukosa darah akan cenderung naik.
Kadar gula darah normal adalah 80-120 mg/dl (pada kondisi puasa), 100-180 mg/dl (sesudah 2 jam makan), dan 100-140 mg/dl (pada kondisi istirahat/tidur). Beragamnya kisaran gula darah normal di atas, terutama dipengaruhi oleh usia, genetis, dan perbedaan pola makan. Gula darah/glukosa dalam sistem metabolisme tubuh terutama berfungsi sebagai penyedia energi untuk kinerja fungsi otak, sistem saraf pusat, dan sel-sel tubuh. Organ-organ di atas tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa adanya glukosa. Untuk menjamin suplai glukosa yang terus-menerus, tubuh menyimpan cadangan glukosa di hati dan otot dalam bentuk glikogen. Kelebihan glukosa lebih lanjut akan diubah menjadi lemak, yang perubahannya terjadi dalam hati.
Mekanisme oksidasi glukosa menjadi energi, perubahan glukosa menjadi glikogen (glikogenesis), dan perubahan glukosa menjadi lemak (lipogenesis) terutama diatur oleh hormon insulin yang diproduksi oleh kelenjar pankreas. Pada penderita diabetes, terjadi ketidakseimbangan kinerja insulin pada mekanisme pengaturan gula darah tersebut, akibatnya kadar gula darah menjadi tinggi (dapat mencapai 240 mg/dl). Hingga tahun 1998, menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita diabetes di Indonesia menduduki peringkat ke-6 di Asia, dan diperkirakan pada tahun 2005, jumlahnya akan mencapai 12 juta orang.

1.2. Mekanisme Terjadinya Diabetes Mellitus

Penyebab terjadinya diabetes mellitus adalah ketidakmampuan sel β pulau langerhans pada pankreas untuk memproduksi hormon insulin ( dalam jumlah cukup ) yang mengakibatkan kuantitas dan kualitas insulin yang diproduksi tidak sesuai dengan kebutuhan metabolisme glukosa. Bila terjadi cacat pada sel β pankreas , maka insulin tidak dihasilkan secara normal, akibatnya sebagian besar glukosa didalam darah tidak dapat masuk kedalam sel jaringan tubuh untuk proses metabolisme, sehingga glukosa yang tertimbun didalam darah makin lama makin bertambah banyak. Hal ini mengakibatkan kadar glukosa di dalam darah akan berlebihan (disebut hiperglikemia) dan sel jaringan tubuh kekurangan glukosa, karena glukosa darah berlebihan maka sebagian glukosa akan dikeluarkan bersama urin.
Atas dasar uraian diatas , maka yang disebut diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang biasanya herediter ( dapat menurun ) yang ditandai dengan adanya glukosa didalam urin (glukosuria). Gangguan metabolisme karbohidrat ini menyebabkan tubuh kekurangan energi. Itu sebabnya penderita DM umumnya terlihat lemah, lemas dan tidak bugar. Gejala lain yang umum dirasakan penderita diabetes antara lain sering buang air kecil, mudah lapar, sering haus, penglihatan kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu, kesemutan pada tangan atau kaki, dan gatal-gatal yang seringkali sangat mengganggu

1.3 Klasifikasi Diabetes Mellitus

Klasifikasi diabetes mellitus berdasarkan PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), sesuai dengan anjuran klasifikasi diabetes mellitus yang dibuat oleh American Diabetes Assosiation ( ADA ) 1997, yang ditetapkan berdasarkan penyebabnya :

1. Diabetes mellitus tipe 1 : adanya kerusakan sel β pankreas ( sel penghasil insulin ) pada pankreas , umumnya menjurus pada kekurangan insulin absolut / mutlak, penyebabnya adalah : auto imun dan idiopatik.

2. Diabetes mellitus tipe 2 : penyebabnya bervariasi yang terutama adalah resistensi insulin ( jumlah insulin banyak, tetapi tidak dapat berfungsi ) dapat juga disertai kekurangan insulin relatif, gangguan produksi ( sekresi ) insulin.

3. Diabetes tipe lain disebabkan bermacam – macam mis defek / cacat genetik fungsi sel β , defek genetik kerja insulin, pankreatitis, dan obat / zat kimia, infeksi.

4. Diabetes mellitus gestasional : kondisi diabetes sementara yang dialami selama masa kehamilan.

1.4 Faktor Penyebab Diabetes

• Kelainan Genetika

Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap diabetes, karena kelainan gen yang mengakibatkan tubuh tak dapat menghasilkan insulin dengan baik. Selain itu, faktor resiko lainnya yaitu faktor kelebihan berat badan, stress, dan kurang bergerak.

• Usia

Umumnya manusia mengalami perubahan fisiologi yang secara drastis menurun dengan cepat setelah usia 40 tahun. Diabetes sering muncul setelah seseorang memasuki usia rawan tersebut, terutama setelah usia 45 tahun dan pada mereka yang berat badannya berlebih sehingga tubuhnya tidak peka terhadap insulin.

• Gaya hidup stres

Stres kronis yang cenderung membuat seseorang mencari makanan yang manis-manis dan berlemak tinggi untuk meningkatkan kadar lemak seretonin otak. Seretonin ini mempunyai efek penenang sementara untuk meredakan stresnya. Tetapi gula dan lemak itulah yang berbahaya bagi mereka yang berisiko kena diabetes.

• Pola makan yang salah

Kurang gizi atau kelebihan berat badan sama-sama meningkatkan risiko kena diabetes. Kurang gizi (malnutrisi) dapat merusak pankreas, sedangkan obesitas (gemuk berlebih) mengakibatkan gangguan kerja insulin (retensi insulin). Kurang gizi dapat terjadi selama kehamilan, masa anak-anak, dan pada usia dewasa akibat diet ketat berlebih. Sedangkan kurang gizi pada janin mungkin terjadi karena ibunya merokok atau mengkonsumsi alkohol selama hamilnya.
Sebaliknya, obesitas bukan karena makanan yang manis atau kaya lemak, tetapi lebih disebabkan jumlah konsumsi yang terlalu banyak, sehingga cadangan gula darah yang disimpan di dalam tubuh sangat berlebihan. Sekitar 80% penderita diabetes tipe II adalah mereka yang tergolong gemuk.


1.5 Penanganan Diabetes

Perbedaan utama antara Diabetes Tipe I dan Diabetes Tipe II terdapat pada kadar insulin di dalam tubuh. Pada Diabetes Tipe I penderita hanya memproduksi sedikit insulin atau tidak sama sekalli, sehingga harus menyuntikkan insulin seumur hidup seiring dengan diet yang ketat. Sementara pada Diabetes Tipe II, insulin diproduksi oleh tubuh namun insulin yang ada tidak dapat berfungsi sebagaimana seharusnya. Diabetes Tipe II ini kadangkala dapat dikontrol hanya dengan penurunan berat badan, diet, dan olah raga yang sesuai.

Penanganan diabetes yang terutama adalah mendapatkan penanganan professional medis. Yang kedua adalah mengenali jenis Diabetes yang diderita dan mengenali tubuh sendiri secara terperinci, dengan mencari semua informasi yang diperlukan. Melakukan tes gula darah secara teratur, mentaati diet khusus untuk penderita Diabetes, mengkonsumsi obat sebagaimana diresepkan dokter, dan tidak ketinggalan olahraga, dan jangan meremehkan penyakit ini.

 Diet Diabetes

Diet diabetes seringkali harus dikombinasikan dengan berbagai jenis diet lain sesuai dengan kebutuhan penderita. Kombinasi Diet Diabetes dengan Diet Rendah Protein, atau Diet Rendah Lemak, atau Diet Rendah Karbohidrat dan Diet Rendah Sodium membuat pentingnya perhitungan kalori dan perhitungan total asuman makanan per hari. Kadangkala pada penderita Diabetes tertentu, penurunan berat badan menjadi suatu keharusan di samping mengkonsumsi makanan rendah lemak dan rendah kolesterol, bagi mereka dengan gangguan fungsi ginjal, Diet Rendah Sodium dan rendah mineral juga diperlukan. Agar berhati-hati dalam mengkonsumsi air mineral, karena mempengaruhi jumlah total mineral yang dikonsumsi dalam sehari.

Perencanaan Makan

Perencanaan makan pada dasarnya adalah untuk mempertahankan kadar glukosa darah senormal mungkin serta agar berat badan penderita dalam batas normal. Untuk itu selain gizi, dan jumlah kalori, jadwal makan adalah sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini bertujuan untuk menghindari naiknya kadar glukosa darah yang sekaligus tinggi, di samping mencegah hipoglikemia bagi penderita yang memakai suntikan insulin. Dengan demikian bila keseimbangan antara makanan yang masuk dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh untuk mengolahnya dapat dicapai, maka glukosa darah diharapkan dapat terkontrol. Selain itu, bagi penderita tersedia cukup tenaga untuk kegiatan sehari-hari dan berat badan pun diharapkan menjadi normal. Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari untuk penderita diabetes mellitus yang bekerja biasa sebagai berikut:

Kurus : BB x 40 - 60 kalori/hari
Normal : BB x 30 kalori/hari
Gemuk : BB x 20 kalor/hari
Obesitas : BB x 10 - 15 kalori/hari

Jumlah Kalori yang Terkandung Dalam Zat Makanan
Jenis makanan Kalori

1 g karbohidrat = 4 kalori
1 g protein = 4 kalori
1 g lemak = 9 kalori
1 g alkohol = 7 kalori

Komposisi makanan (karbohidrat, protein, lemak, sayunan dan buah-buahan) dianjurkan seimbang yakni:

Karbohidrat : 60 - 70%
Protein : 10 - 15%
Lemak : 20 - 25%

Jumlah kandungan kolesterol dibawah 300 mg/hari, serat 25-30 g/hari dan diutamakan serat yang larut dalam air. Garam dan pemanis secukupnya.

Menentukan Status Gizi

BBR = ((Berat badan (kg)/ Tinggi badan (cm)) – 100) x 100%
Kurus : BBR lebih kecil dari 90%
Normal : BBR antara 90% - 110%
Gemuk : BBR diatas 110%
Obesitas : BBR diatas 120%

Contoh:
Seorang penderita diabetes mellitus berumur 39 tahun, TB 175 cm, dan BB 70 kg. Ia bekerja dikantor sebagai tenaga personalia. BBR menurut perhitungan: 93.33%, berarti penderita mempunyai BB ideal (normal). Kebutuhan kalorinya 70 x 30 kalori = 2.100 kaloni/hari. Berdasarkan komposisi standar makanan yang dianjurkan, menu makanan yang disusun setiap hari terdiri dari:

 60-70% karbohidrat = 65% x 2.100 kalori = 1.365 kalori
 10-15% protein =15% x 2.100 kalori = 315 kalori
 20-25% lemak = 20% x 2.100 kalori = 420 kalori

 Olah Raga
Olahraga secara teratur, berkesinambungan dan terukur akan memperbaiki tingkat kesehatan secara umum sehingga seluruh organ tubuh akan berfungsi dengan baik. Terukur berarti sesuai kondisi dan kemampuan dan tidak diforsir. Ini sangat penting karena tidak semua diabetisi dapat melakukan olahraga tanpa resiko. Hanya penderita diabetes millitus tipe II dan tidak tergantung suntikan insulin yaitu penderita yang masih pada stadium ringan atau sedang yang dapat melakukannya dengan aman. Apabila penyakit yang diderita sudah disertai komplikasi seperti penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, atau disertai rematik maka harus berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu. Olahraga yang dianjurkan sebagai berikut:
• Terus menerus selama 50-60 menit, tanpa berhenti.
• Berirama dan teratur seperti jalan kaki, lari dsb.
• Cepat dan lambat bergantian tanpa berhenti.
• Dilakukan secara bertahap dengan beban latihan ditingkatkan perlahan-lahan.
• Latihan ketahanan, untuk meningkatkan kesegaran jantung dan pembuluh darah.
Bagi diabetisi olahraga yang teratur dan terukur akan mendapatkan keuntungan sebagai berikut:
• Mempermudah glukosa menembus membran sel sehingga lebih mudah masuk ke dalam sel-sel tubuh yang membutuhkan.
• Menimbulkan efek-efek insulin pada tubuh sehingga pendistribusian glukosa ke otot-otot yang memerlukan bisa berjalan semakin efektif.
• Secara umum dapat memperkecil resiko terkena serangan jantung koroner.


Untuk mengetahui berapa denyut nadi yang diperbolehkan selama latihan, dapat dihitung melalui rumus sebagai berikut
Denyut nadi maksimal per menit = 220 - umur
Adapun target zone/zone latihan ialah 70 - 80% dari denyut nadi maksimal.

 Pemeliharaan Kaki

Walaupun belum terjadi komplikasi, penderita diabetes mellitus harus selalu memperhatikan dan menjaga kebersihan kaki serta melatihnya secara baik. Ini untuk menghindari gangguan peredaran darah dan kerusakan syaraf yang menyebabkan berkurangnya rasa sakit. Berkurangnya rasa nyeri menyebabkan penderita mudah mengalami cedera tanpa disadari. Bila terjadi luka maka lukanya akan sukar sembuh. Dengan kadar glukosa darah yang tinggi dan sakit yang hampir tidak dirasakan, maka luka kecil yang tidak mendapat perhatian akan cepat menjadi borok besar yang akhirnya akan menjadi gangreng dan harus diamputasi.
Gangguan peredaran darah pada penderita diabetes mellitus terutama timbul pada kaki. Gejalanya adalah perasaan nyeri atau sakit saat dipakai jalan, sehingga perlu beristirahat. Bila keadaannya bertambah parah maka denyut nadi di kaki tidak terasakan lagi. Denyut nadi di kaki bisa dirasakan pada pergelangan kaki, yaitu di belakang mata kaki. Latihan kaki bertujuan untuk memperbaiki aliran darah tungkai bawah, pergelangan kaki, telapak kaki, dan jari-jari. Latihan setiap hari dan berhenti merokok, diharapkan dapat mencegah komplikasi neuropati diabetika yang lebih parah lagi .

2 comments: