Diabetes Mellitus
1.1. Pendahuluan
Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik sebagai akibat kurangnya insulin di dalam tubuh sehingga glukosa darah diatas normal hampir sepanjang waktu, dengan tanda – tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai gejala klinis akut 3P (poliuria, plidipsi, polifagia ) atau kadang – kadang tanpa gejala. Hormon insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas (terletak pada lekukan usus dua belas jari ) penting untuk menjaga keseimbanagan kadar gula / glukosa darah normal. Apabila terdapat gangguan kerja insulin baik kualitas maupun kuantitias , maka keseimbangan tersebut menjadi terganggu dan glukosa darah akan cenderung naik.
Kadar gula darah normal adalah 80-120 mg/dl (pada kondisi puasa), 100-180 mg/dl (sesudah 2 jam makan), dan 100-140 mg/dl (pada kondisi istirahat/tidur). Beragamnya kisaran gula darah normal di atas, terutama dipengaruhi oleh usia, genetis, dan perbedaan pola makan. Gula darah/glukosa dalam sistem metabolisme tubuh terutama berfungsi sebagai penyedia energi untuk kinerja fungsi otak, sistem saraf pusat, dan sel-sel tubuh. Organ-organ di atas tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa adanya glukosa. Untuk menjamin suplai glukosa yang terus-menerus, tubuh menyimpan cadangan glukosa di hati dan otot dalam bentuk glikogen. Kelebihan glukosa lebih lanjut akan diubah menjadi lemak, yang perubahannya terjadi dalam hati.
Mekanisme oksidasi glukosa menjadi energi, perubahan glukosa menjadi glikogen (glikogenesis), dan perubahan glukosa menjadi lemak (lipogenesis) terutama diatur oleh hormon insulin yang diproduksi oleh kelenjar pankreas. Pada penderita diabetes, terjadi ketidakseimbangan kinerja insulin pada mekanisme pengaturan gula darah tersebut, akibatnya kadar gula darah menjadi tinggi (dapat mencapai 240 mg/dl). Hingga tahun 1998, menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita diabetes di Indonesia menduduki peringkat ke-6 di Asia, dan diperkirakan pada tahun 2005, jumlahnya akan mencapai 12 juta orang.
1.2. Mekanisme Terjadinya Diabetes Mellitus
Penyebab terjadinya diabetes mellitus adalah ketidakmampuan sel β pulau langerhans pada pankreas untuk memproduksi hormon insulin ( dalam jumlah cukup ) yang mengakibatkan kuantitas dan kualitas insulin yang diproduksi tidak sesuai dengan kebutuhan metabolisme glukosa. Bila terjadi cacat pada sel β pankreas , maka insulin tidak dihasilkan secara normal, akibatnya sebagian besar glukosa didalam darah tidak dapat masuk kedalam sel jaringan tubuh untuk proses metabolisme, sehingga glukosa yang tertimbun didalam darah makin lama makin bertambah banyak. Hal ini mengakibatkan kadar glukosa di dalam darah akan berlebihan (disebut hiperglikemia) dan sel jaringan tubuh kekurangan glukosa, karena glukosa darah berlebihan maka sebagian glukosa akan dikeluarkan bersama urin.
Atas dasar uraian diatas , maka yang disebut diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang biasanya herediter ( dapat menurun ) yang ditandai dengan adanya glukosa didalam urin (glukosuria). Gangguan metabolisme karbohidrat ini menyebabkan tubuh kekurangan energi. Itu sebabnya penderita DM umumnya terlihat lemah, lemas dan tidak bugar. Gejala lain yang umum dirasakan penderita diabetes antara lain sering buang air kecil, mudah lapar, sering haus, penglihatan kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu, kesemutan pada tangan atau kaki, dan gatal-gatal yang seringkali sangat mengganggu
1.3 Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi diabetes mellitus berdasarkan PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), sesuai dengan anjuran klasifikasi diabetes mellitus yang dibuat oleh American Diabetes Assosiation ( ADA ) 1997, yang ditetapkan berdasarkan penyebabnya :
1. Diabetes mellitus tipe 1 : adanya kerusakan sel β pankreas ( sel penghasil insulin ) pada pankreas , umumnya menjurus pada kekurangan insulin absolut / mutlak, penyebabnya adalah : auto imun dan idiopatik.
2. Diabetes mellitus tipe 2 : penyebabnya bervariasi yang terutama adalah resistensi insulin ( jumlah insulin banyak, tetapi tidak dapat berfungsi ) dapat juga disertai kekurangan insulin relatif, gangguan produksi ( sekresi ) insulin.
3. Diabetes tipe lain disebabkan bermacam – macam mis defek / cacat genetik fungsi sel β , defek genetik kerja insulin, pankreatitis, dan obat / zat kimia, infeksi.
4. Diabetes mellitus gestasional : kondisi diabetes sementara yang dialami selama masa kehamilan.
1.4 Faktor Penyebab Diabetes
• Kelainan Genetika
Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap diabetes, karena kelainan gen yang mengakibatkan tubuh tak dapat menghasilkan insulin dengan baik. Selain itu, faktor resiko lainnya yaitu faktor kelebihan berat badan, stress, dan kurang bergerak.
• Usia
Umumnya manusia mengalami perubahan fisiologi yang secara drastis menurun dengan cepat setelah usia 40 tahun. Diabetes sering muncul setelah seseorang memasuki usia rawan tersebut, terutama setelah usia 45 tahun dan pada mereka yang berat badannya berlebih sehingga tubuhnya tidak peka terhadap insulin.
• Gaya hidup stres
Stres kronis yang cenderung membuat seseorang mencari makanan yang manis-manis dan berlemak tinggi untuk meningkatkan kadar lemak seretonin otak. Seretonin ini mempunyai efek penenang sementara untuk meredakan stresnya. Tetapi gula dan lemak itulah yang berbahaya bagi mereka yang berisiko kena diabetes.
• Pola makan yang salah
Kurang gizi atau kelebihan berat badan sama-sama meningkatkan risiko kena diabetes. Kurang gizi (malnutrisi) dapat merusak pankreas, sedangkan obesitas (gemuk berlebih) mengakibatkan gangguan kerja insulin (retensi insulin). Kurang gizi dapat terjadi selama kehamilan, masa anak-anak, dan pada usia dewasa akibat diet ketat berlebih. Sedangkan kurang gizi pada janin mungkin terjadi karena ibunya merokok atau mengkonsumsi alkohol selama hamilnya.
Sebaliknya, obesitas bukan karena makanan yang manis atau kaya lemak, tetapi lebih disebabkan jumlah konsumsi yang terlalu banyak, sehingga cadangan gula darah yang disimpan di dalam tubuh sangat berlebihan. Sekitar 80% penderita diabetes tipe II adalah mereka yang tergolong gemuk.
1.5 Penanganan Diabetes
Perbedaan utama antara Diabetes Tipe I dan Diabetes Tipe II terdapat pada kadar insulin di dalam tubuh. Pada Diabetes Tipe I penderita hanya memproduksi sedikit insulin atau tidak sama sekalli, sehingga harus menyuntikkan insulin seumur hidup seiring dengan diet yang ketat. Sementara pada Diabetes Tipe II, insulin diproduksi oleh tubuh namun insulin yang ada tidak dapat berfungsi sebagaimana seharusnya. Diabetes Tipe II ini kadangkala dapat dikontrol hanya dengan penurunan berat badan, diet, dan olah raga yang sesuai.
Penanganan diabetes yang terutama adalah mendapatkan penanganan professional medis. Yang kedua adalah mengenali jenis Diabetes yang diderita dan mengenali tubuh sendiri secara terperinci, dengan mencari semua informasi yang diperlukan. Melakukan tes gula darah secara teratur, mentaati diet khusus untuk penderita Diabetes, mengkonsumsi obat sebagaimana diresepkan dokter, dan tidak ketinggalan olahraga, dan jangan meremehkan penyakit ini.
Diet Diabetes
Diet diabetes seringkali harus dikombinasikan dengan berbagai jenis diet lain sesuai dengan kebutuhan penderita. Kombinasi Diet Diabetes dengan Diet Rendah Protein, atau Diet Rendah Lemak, atau Diet Rendah Karbohidrat dan Diet Rendah Sodium membuat pentingnya perhitungan kalori dan perhitungan total asuman makanan per hari. Kadangkala pada penderita Diabetes tertentu, penurunan berat badan menjadi suatu keharusan di samping mengkonsumsi makanan rendah lemak dan rendah kolesterol, bagi mereka dengan gangguan fungsi ginjal, Diet Rendah Sodium dan rendah mineral juga diperlukan. Agar berhati-hati dalam mengkonsumsi air mineral, karena mempengaruhi jumlah total mineral yang dikonsumsi dalam sehari.
Perencanaan Makan
Perencanaan makan pada dasarnya adalah untuk mempertahankan kadar glukosa darah senormal mungkin serta agar berat badan penderita dalam batas normal. Untuk itu selain gizi, dan jumlah kalori, jadwal makan adalah sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini bertujuan untuk menghindari naiknya kadar glukosa darah yang sekaligus tinggi, di samping mencegah hipoglikemia bagi penderita yang memakai suntikan insulin. Dengan demikian bila keseimbangan antara makanan yang masuk dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh untuk mengolahnya dapat dicapai, maka glukosa darah diharapkan dapat terkontrol. Selain itu, bagi penderita tersedia cukup tenaga untuk kegiatan sehari-hari dan berat badan pun diharapkan menjadi normal. Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari untuk penderita diabetes mellitus yang bekerja biasa sebagai berikut:
Kurus : BB x 40 - 60 kalori/hari
Normal : BB x 30 kalori/hari
Gemuk : BB x 20 kalor/hari
Obesitas : BB x 10 - 15 kalori/hari
Jumlah Kalori yang Terkandung Dalam Zat Makanan
Jenis makanan Kalori
1 g karbohidrat = 4 kalori
1 g protein = 4 kalori
1 g lemak = 9 kalori
1 g alkohol = 7 kalori
Komposisi makanan (karbohidrat, protein, lemak, sayunan dan buah-buahan) dianjurkan seimbang yakni:
Karbohidrat : 60 - 70%
Protein : 10 - 15%
Lemak : 20 - 25%
Jumlah kandungan kolesterol dibawah 300 mg/hari, serat 25-30 g/hari dan diutamakan serat yang larut dalam air. Garam dan pemanis secukupnya.
Menentukan Status Gizi
BBR = ((Berat badan (kg)/ Tinggi badan (cm)) – 100) x 100%
Kurus : BBR lebih kecil dari 90%
Normal : BBR antara 90% - 110%
Gemuk : BBR diatas 110%
Obesitas : BBR diatas 120%
Contoh:
Seorang penderita diabetes mellitus berumur 39 tahun, TB 175 cm, dan BB 70 kg. Ia bekerja dikantor sebagai tenaga personalia. BBR menurut perhitungan: 93.33%, berarti penderita mempunyai BB ideal (normal). Kebutuhan kalorinya 70 x 30 kalori = 2.100 kaloni/hari. Berdasarkan komposisi standar makanan yang dianjurkan, menu makanan yang disusun setiap hari terdiri dari:
60-70% karbohidrat = 65% x 2.100 kalori = 1.365 kalori
10-15% protein =15% x 2.100 kalori = 315 kalori
20-25% lemak = 20% x 2.100 kalori = 420 kalori
Olah Raga
Olahraga secara teratur, berkesinambungan dan terukur akan memperbaiki tingkat kesehatan secara umum sehingga seluruh organ tubuh akan berfungsi dengan baik. Terukur berarti sesuai kondisi dan kemampuan dan tidak diforsir. Ini sangat penting karena tidak semua diabetisi dapat melakukan olahraga tanpa resiko. Hanya penderita diabetes millitus tipe II dan tidak tergantung suntikan insulin yaitu penderita yang masih pada stadium ringan atau sedang yang dapat melakukannya dengan aman. Apabila penyakit yang diderita sudah disertai komplikasi seperti penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, atau disertai rematik maka harus berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu. Olahraga yang dianjurkan sebagai berikut:
• Terus menerus selama 50-60 menit, tanpa berhenti.
• Berirama dan teratur seperti jalan kaki, lari dsb.
• Cepat dan lambat bergantian tanpa berhenti.
• Dilakukan secara bertahap dengan beban latihan ditingkatkan perlahan-lahan.
• Latihan ketahanan, untuk meningkatkan kesegaran jantung dan pembuluh darah.
Bagi diabetisi olahraga yang teratur dan terukur akan mendapatkan keuntungan sebagai berikut:
• Mempermudah glukosa menembus membran sel sehingga lebih mudah masuk ke dalam sel-sel tubuh yang membutuhkan.
• Menimbulkan efek-efek insulin pada tubuh sehingga pendistribusian glukosa ke otot-otot yang memerlukan bisa berjalan semakin efektif.
• Secara umum dapat memperkecil resiko terkena serangan jantung koroner.
Untuk mengetahui berapa denyut nadi yang diperbolehkan selama latihan, dapat dihitung melalui rumus sebagai berikut
Denyut nadi maksimal per menit = 220 - umur
Adapun target zone/zone latihan ialah 70 - 80% dari denyut nadi maksimal.
Pemeliharaan Kaki
Walaupun belum terjadi komplikasi, penderita diabetes mellitus harus selalu memperhatikan dan menjaga kebersihan kaki serta melatihnya secara baik. Ini untuk menghindari gangguan peredaran darah dan kerusakan syaraf yang menyebabkan berkurangnya rasa sakit. Berkurangnya rasa nyeri menyebabkan penderita mudah mengalami cedera tanpa disadari. Bila terjadi luka maka lukanya akan sukar sembuh. Dengan kadar glukosa darah yang tinggi dan sakit yang hampir tidak dirasakan, maka luka kecil yang tidak mendapat perhatian akan cepat menjadi borok besar yang akhirnya akan menjadi gangreng dan harus diamputasi.
Gangguan peredaran darah pada penderita diabetes mellitus terutama timbul pada kaki. Gejalanya adalah perasaan nyeri atau sakit saat dipakai jalan, sehingga perlu beristirahat. Bila keadaannya bertambah parah maka denyut nadi di kaki tidak terasakan lagi. Denyut nadi di kaki bisa dirasakan pada pergelangan kaki, yaitu di belakang mata kaki. Latihan kaki bertujuan untuk memperbaiki aliran darah tungkai bawah, pergelangan kaki, telapak kaki, dan jari-jari. Latihan setiap hari dan berhenti merokok, diharapkan dapat mencegah komplikasi neuropati diabetika yang lebih parah lagi .
food for flesh
Sunday, February 14, 2010
Thursday, February 11, 2010
HIPERTENSI
PENGERTIAN
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah yang sama atau melebihi 140mmHg sistolik dan / atau sama atau melebihi 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang makan obat anti hipertensi.
Klasifikasi Tekanan Darah Berdasarkan Joint National Commnitee VII:
Klasifikasi TD Sistolik TD Diastolik
(mmHg) (mmHg)
Normal <120 dan < 80
Pre-hipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi stage 1 140-159 atau 90-99
Hipertensi stage 2 ≥ 160 atau ≥ 100
Diagnosis
Kasifikasi berdasarkan hasil rata-rata pengukuran tekanan darah yang dilakukan minimal 2 kali tiap kunjunagan atau lebih dengan menggunakan cuff yang meliputi minimal 80% lengan atas pada pasien dengan posisi duduk dan telah beristirahat 5 menit.
Tekanan sistolik = suara fase 1 dan tekanan diastolik = suara fase 5
Pengukuran pertama harus pada kedua sisi lengan untuk menghindarkan kelainan pembuluh darah perifer
DIAGNOSIS BANDING
Peningkatan tekanan darah akibat white coat hypertension, rasa nyeri, peningkatan tekanan intraserebral, ensefalitis, akibat obat,dll
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Urinalisis, tes fungsi ginjal, gula darah, elektrolit, profil lipid, foto toraks, EKG; sesuai penyakit penyerta: asam urat, aktivitas renin plasma, aldosteron, katekolamin urin, USG pembuluh darah besar, USG ginjal, ekokardiograf
TERAPI
Modifikasi gaya hidup dengan target tekanan darah <140/90 mmhg atau <130/80 pada pasien DM atau penyakit ginjal kronis. Bil;a target tidak tercapai maka diberikan obat inisial.
Obat inisisal dipilih bedasarkan:
Hipertensi tanpa compelling indication
Pada hipertensi stage I dapat diberikan diuretik. Pertimbangkan pemberian penghambat ACE, penyekat reseptor beta, penghambat kalsium, atau kombinasi.
Pada hipertensi stage II dapat diberikan kombinsi 2 obat, biasanya golongan diuretik, tiazid dan penghambat ACE atau antagonis reseptor AII atau penyekat reseptor beta, atau penghambat kalsium.
Hipertensi dengan compelling indication. Latihan tabel petunjuk pemilihan obat pada compelling indication. Obat antihipertensi lain dapat diberikan bila dibutuhkan misalnya diuretik, antagonis reseptor beta, atau penghambatkalsium.
Bila target tidak tercapat makadilakukan optimalisasi dosis atau ditambahkan obat lain sampai target tekanan darah tercapai. Pertimbangkan untuk b erkonsultasi pada spesialis hipertensi.
Pada penggunaan penghambatan ACE atau antagonis reseptor AII: evaluasi kretinin dan kalium serum, bila terdapat peningkatan kreatinin>35% atau timbul hiperkalemi harus dihentikan
Kondisi khusus lain:
Obesitas dan sindrom metabolik (terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki – laki >102 cm atau perempuan >89 cm, toleransi gluikosa tergantung dengan gula darah puasa ≥110 mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmhg, trigliserida tinggi ≥150 mg/dl, kolesterol HDL rendah <40 mg/dl pada leki – laki atau <50 mg/dl pada perempuan)-> modifikasi gaya hidup yang intensif dengan pilihan terapi utama golongan penghambat ACE. Pilihan lain adalah antagonis reseptor AII, penghambata kalsium, dan penghambat
Hipertrofi ventrikel kiri - > tatalaksana tekanan darah yang agresif termasuk penurunan berat badan , restriksi asupan natrium, dan terapi dengan semua kelas antihipertensi kecuali vasodilator langsung, hidralazin dan minoksidil
Penyakit arteri perifer semua kelas anti hipertensi, tatalaksana faktor risiko lain, dan pemberian aspirin
Lanjut usia, termasuk penderita hipertensi sistolik terisolasi -> diuretika ( tiazid ) sebagai lini pertama, dimulai dengan dosis rendah 12,5 mg/hari. Penggunaan obat antihipertensi lain dengan mempertimbangkan penyakit penyerta.
Kehamilan -> pilihan terapi adalah golongan metildopa, penyekat reseptor , antagonis kalsium, dan vasodilator. Penghambat ACE dan antagonis reseptor AII tidak boleh digunakan selama kehamilan
Terapi Farmakologis
3 pendekatan utama dalam terapi hipertensi :
1. Menurunkan curah jantung
2. Menurunkan volume darah
3. Menurunkan resistensi perifer
Kllasiifiikasii berdasarkan efek terapeutiik
Obat yang menurunkan curah jantung:
– beta blocker
– penghambat saraf adrenergik
Obat yang menurunkan tahanan perifer :
– vasodilator
– penghambat reseptor a-adrenergik
– obat yang bekerja sentral
– antagonis kalsium
– ACE inhibitor
– ARB
– Diuretik ( dalam jangka panjang )
Obat yang menurunkan volume darah :
– Diuretik
Antagonis calcium/
calcium channel blocker
Menghambat masuknya ion Ca2+ melewati
slow channel yang terdapat pada membran
sel
– dilatasi arteriol perifer dan koroner -->
tahanan perifer ↓
– menghambat kontraksi otot jantung
– verapamil, diltiazem, nifedipin
– efek samping: konstipasi, mual, pusing,
sakit kepala, hipotensi, edema
Beta blocker
(penghambat adrenergik)
menghambat reseptor beta adrenergiik
pengurangan denyut jjantung dan
kontraktiilliitas miiokard
Propanolloll,, atenolloll,, dllll
Vasodilator
–menurunkan tahanan periiffer dengan
diillatasii pembulluh darah
arteri (hidralazin, minoxidil)
arteri dan vena (nitroprusida)
–effek sampiing: takiikardiia,, sakiit
kepalla,, pusiing
Penghambat enzim konversi
angiotensin/ ACE inhibitor
– menghambat pembentukan angiotensin II
dari angiotensin I
– efek samping: batuk kering, angioedema,
hiperkalemia, rash, leukopeni, gangguan
pengecapan
– Captopril, Enalapril, Lisinopril, Ramipril,
Quinapril
Diiuretiik
Menambah kecepatan pembentukan urin/
meningkatkan eskresi air, natrium, klorida
--> menurunkan volume darah --> tekanan
darah ↓ akibat berkurangnya curah jantung.
– Thiazide (HCT/hidroklorotiazid)
– Loop diuretic (furosemid)
– Diuretika hemat kalium (amilorid
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah yang sama atau melebihi 140mmHg sistolik dan / atau sama atau melebihi 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang makan obat anti hipertensi.
Klasifikasi Tekanan Darah Berdasarkan Joint National Commnitee VII:
Klasifikasi TD Sistolik TD Diastolik
(mmHg) (mmHg)
Normal <120 dan < 80
Pre-hipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi stage 1 140-159 atau 90-99
Hipertensi stage 2 ≥ 160 atau ≥ 100
Diagnosis
Kasifikasi berdasarkan hasil rata-rata pengukuran tekanan darah yang dilakukan minimal 2 kali tiap kunjunagan atau lebih dengan menggunakan cuff yang meliputi minimal 80% lengan atas pada pasien dengan posisi duduk dan telah beristirahat 5 menit.
Tekanan sistolik = suara fase 1 dan tekanan diastolik = suara fase 5
Pengukuran pertama harus pada kedua sisi lengan untuk menghindarkan kelainan pembuluh darah perifer
DIAGNOSIS BANDING
Peningkatan tekanan darah akibat white coat hypertension, rasa nyeri, peningkatan tekanan intraserebral, ensefalitis, akibat obat,dll
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Urinalisis, tes fungsi ginjal, gula darah, elektrolit, profil lipid, foto toraks, EKG; sesuai penyakit penyerta: asam urat, aktivitas renin plasma, aldosteron, katekolamin urin, USG pembuluh darah besar, USG ginjal, ekokardiograf
TERAPI
Modifikasi gaya hidup dengan target tekanan darah <140/90 mmhg atau <130/80 pada pasien DM atau penyakit ginjal kronis. Bil;a target tidak tercapai maka diberikan obat inisial.
Obat inisisal dipilih bedasarkan:
Hipertensi tanpa compelling indication
Pada hipertensi stage I dapat diberikan diuretik. Pertimbangkan pemberian penghambat ACE, penyekat reseptor beta, penghambat kalsium, atau kombinasi.
Pada hipertensi stage II dapat diberikan kombinsi 2 obat, biasanya golongan diuretik, tiazid dan penghambat ACE atau antagonis reseptor AII atau penyekat reseptor beta, atau penghambat kalsium.
Hipertensi dengan compelling indication. Latihan tabel petunjuk pemilihan obat pada compelling indication. Obat antihipertensi lain dapat diberikan bila dibutuhkan misalnya diuretik, antagonis reseptor beta, atau penghambatkalsium.
Bila target tidak tercapat makadilakukan optimalisasi dosis atau ditambahkan obat lain sampai target tekanan darah tercapai. Pertimbangkan untuk b erkonsultasi pada spesialis hipertensi.
Pada penggunaan penghambatan ACE atau antagonis reseptor AII: evaluasi kretinin dan kalium serum, bila terdapat peningkatan kreatinin>35% atau timbul hiperkalemi harus dihentikan
Kondisi khusus lain:
Obesitas dan sindrom metabolik (terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki – laki >102 cm atau perempuan >89 cm, toleransi gluikosa tergantung dengan gula darah puasa ≥110 mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmhg, trigliserida tinggi ≥150 mg/dl, kolesterol HDL rendah <40 mg/dl pada leki – laki atau <50 mg/dl pada perempuan)-> modifikasi gaya hidup yang intensif dengan pilihan terapi utama golongan penghambat ACE. Pilihan lain adalah antagonis reseptor AII, penghambata kalsium, dan penghambat
Hipertrofi ventrikel kiri - > tatalaksana tekanan darah yang agresif termasuk penurunan berat badan , restriksi asupan natrium, dan terapi dengan semua kelas antihipertensi kecuali vasodilator langsung, hidralazin dan minoksidil
Penyakit arteri perifer semua kelas anti hipertensi, tatalaksana faktor risiko lain, dan pemberian aspirin
Lanjut usia, termasuk penderita hipertensi sistolik terisolasi -> diuretika ( tiazid ) sebagai lini pertama, dimulai dengan dosis rendah 12,5 mg/hari. Penggunaan obat antihipertensi lain dengan mempertimbangkan penyakit penyerta.
Kehamilan -> pilihan terapi adalah golongan metildopa, penyekat reseptor , antagonis kalsium, dan vasodilator. Penghambat ACE dan antagonis reseptor AII tidak boleh digunakan selama kehamilan
Terapi Farmakologis
3 pendekatan utama dalam terapi hipertensi :
1. Menurunkan curah jantung
2. Menurunkan volume darah
3. Menurunkan resistensi perifer
Kllasiifiikasii berdasarkan efek terapeutiik
Obat yang menurunkan curah jantung:
– beta blocker
– penghambat saraf adrenergik
Obat yang menurunkan tahanan perifer :
– vasodilator
– penghambat reseptor a-adrenergik
– obat yang bekerja sentral
– antagonis kalsium
– ACE inhibitor
– ARB
– Diuretik ( dalam jangka panjang )
Obat yang menurunkan volume darah :
– Diuretik
Antagonis calcium/
calcium channel blocker
Menghambat masuknya ion Ca2+ melewati
slow channel yang terdapat pada membran
sel
– dilatasi arteriol perifer dan koroner -->
tahanan perifer ↓
– menghambat kontraksi otot jantung
– verapamil, diltiazem, nifedipin
– efek samping: konstipasi, mual, pusing,
sakit kepala, hipotensi, edema
Beta blocker
(penghambat adrenergik)
menghambat reseptor beta adrenergiik
pengurangan denyut jjantung dan
kontraktiilliitas miiokard
Propanolloll,, atenolloll,, dllll
Vasodilator
–menurunkan tahanan periiffer dengan
diillatasii pembulluh darah
arteri (hidralazin, minoxidil)
arteri dan vena (nitroprusida)
–effek sampiing: takiikardiia,, sakiit
kepalla,, pusiing
Penghambat enzim konversi
angiotensin/ ACE inhibitor
– menghambat pembentukan angiotensin II
dari angiotensin I
– efek samping: batuk kering, angioedema,
hiperkalemia, rash, leukopeni, gangguan
pengecapan
– Captopril, Enalapril, Lisinopril, Ramipril,
Quinapril
Diiuretiik
Menambah kecepatan pembentukan urin/
meningkatkan eskresi air, natrium, klorida
--> menurunkan volume darah --> tekanan
darah ↓ akibat berkurangnya curah jantung.
– Thiazide (HCT/hidroklorotiazid)
– Loop diuretic (furosemid)
– Diuretika hemat kalium (amilorid
Subscribe to:
Posts (Atom)
